Budget Backpacker ke Myanmar (1)

Ga ada angin, ga ada ujan… kesamber gledek tiba-tiba mantab milih lokasi trip ke Myanmar.

What?

Myanmar …

Anak pantai yang satu ini lagi khilaf nampaknya. Random abis.

Gegara liat postingan Mas Alex dan hasil kompornya, akhirnya cuzz deh berangkat ke Myanmar. Sebenarnya Mas Alex juga ga ngompor2in amat, cuma rajin update “Serius ga ke Myanmar?” alhasil … nyerah juga dengan kronologis beli tiket last minute dan tuker dollar seadanya.

Karena kegagalan gue ke Kei, gue harus detour nih, maunya sih tetep laut, tapi karena ajakan Myanmar ini dengan iming-iming share cost sama tim Mas Alex, jadilah gue mikir. Tadinya (katanya) ada 4 peserta, Mas Alex, Nadia, gue dan temennya Mas Alex. Tapi mendekati hari besarnya, tetiba temen Mas Alex gugur. Jadilah kami cuma ber3.

Trip ini gue pasrah aja, mikut aja ceritanya. Di Myanmar ngapain, nginep dimana, apapun lah dsana gue pasrahin ke Mas Alex dan Nadia. Tim penggembira aja nih gue ceritanya. Kenapa gue nekat? karena gue pengen coba keluar dari comfort zone gue dalam ngetrip, sjauh ini gue nyamannya ke laut-pantai melulu. Coba lah sekali2 city tour dan ke negara random seperti Myanmar! Challenge Accepted!

Gue berterima kasih kepada Air Asia yang menyelamatkan perjalanan dengan harga tiket murah, CGK-KUL-RGN-KUL-CGK cuma abis kurang lebih 2,5 juta rupiah saja. No wonder banyak orang beralih pergi ke luar negeri daripada ke Indonesia karena tiketnya murah bok! Dan previlege kalo ke luar negeri itu nambah cap di paspor. Iya, ai paham banged rasanya kalo cap imigrasi di paspor penuh! Pasti girang!

Maka detail tiket gue adalah :

Screenshot 2015-11-10 17_Fotor

Screenshot 2015-11-10 17_Fotor_aa

Penerbangan kali ini dengan AA berjalan mulus, gak ada delay, ga ada kendala berarti! Semua aman terkendali. Dan gegara trip ini gue jadi punya BIG Poin. Mayaan, gak cuma punya GFF aja 🙂 jadwal tiket ini mengikuti tiketnya Mas Alex dan Nadia, kita meeting point di KL. Jadi gue dari CGK mereka dari SUB.

Kalo liat jamnya memang kami overstay di KLIA2, dan gue happy karena udah pindah di KLIA2 bukan di LCC Airport lagi, yang GAJEL bentuknya. Udah canggih dan apik di KLIA2, jadi mo ngemper-pun ga masalah, yang penting free wifi. Hahahha ….. terakhir ke KL taun kapanlah, jadi gue cukup takjub dengan pemandangan dsini. Bandara KLIA2 ini nyambung sama mall, jadi ga perlu khawatir kalo masih mo belanja sana belanja sini. Tapi kan aing orangnya ga demen-demen amat belanjalah yaaa… jadi di tengah malam buta itu akik pilih tidur (toko juga tutup kali, Ni)

Tiba saatnya kita menuju Yangon, sudah komplit ber3. Tapi gue masih lom check-in, jadilah check-in pake mesin.

Self noted : lebih baik buat para traveler, antisipasi dengan web check-in dan di print ya! Jangan ngandelin screenshot dan baca bener-bener dokumen perjalanan kita. Karena cerita soal imigrasi kepulangan, Mas Alex dan Nadia udah web check-in dipikir aman, ternyata dokumen tersebut  harus tetep di“lapor”kan ke counter check-in, jadi sami mawon harus antri dengan kebanyakan manusia lain. Karena di Bandara Yangon gak ada mesin self check-in.

Ok,

Bgitu sampe kita ada di Yangon. Seperti biasa, kita keluar imigrasi.

Self noted : kalo ktiduran di pesawat ga sempet isi kartu imigrasi, pastiin kamu dapet Departure card nya! karena kalo minta di imigrasi Myanmar, dapetnya cuma Arrival Card aja, modelannya bukan yang sobekan gitu. Mereka masih pake sistem manual.

IMG_9989_Fotor_Myanmar
Yangon International Airport

Lolos dari imigrasi, lanjutlah kita nuker mata uang setempat yaitu Kyatt. Saat itu USD 1 berarti 1280 Kyatt. Kami sepakat untuk menukar 100 USD per orang untuk kelangsungan hidup kami selama di Myanmar. Kaya Raya!

Setelah itu, kami juga beli sim card Oredoo dengan harga 13.500 Kyatt. Rela lah yaa demi eksistensi dan komunikasi sama si #babyanya. (skala prioritas kalo lagi traveling adalah tetep bisa komunikasi sama anak).

Selanjutnya…..Bingung deh,, hahaha,

Gimana transportnya nih ke down town. Menurut hasil broosingan Nadia, kita bisa naik “angkot” tapi melihat keadaan, kami, traveler sulit melihat tanda-tanda kehidupan angkot dsana. Dan ternyata model angkotnya itu mobil bak terbuka yang merupakan transportasi termurah. Ternyata di Yangon International Airport memang tidak ada transportasi umum lain selain taxi dan angkot tadi. Ga ada bus, ga ada MRT. Kalopun mo naik bus umum harus jalan 2-3km dari bandara. Muka panik, akhirnya ada supir taxi yang mendekati kami, berbahasa Inggris lumayan, menjelaskan kita bahwa emang ga ada bus, dan lain sebagainya. Secara dia supir taxi maka dia menawarkan jasanya. Setelah ngalur ngidul akhirnya dia menawarkan USD10 untuk kami ber3. Okelah, kami menyerah. Karena emang bener-bener ga ada palang apapun yang menjelaskan kami bisa ke tempat angkot tersebut demi harga murah.

Taxinya pun model mobil pribadi gitu, yang jangan dianggap sama kaya taxi di Singapore. Bgitu masuk, gue takjub dengan Yangon, mirip Indonesia tahun 80an kali ya? (kaya gue tau ajaaa!!!!)… kotanya masih dalam tahap pembangunan, jalanan macet dimana-mana, debu karena pembangunan dan sebagainya. Perjalanan dari bandara ke down town sekitar 40-60 menit lah karena macet itu. Spanjang jalan gue celingak celinguk liat keadaan setempat. Selain itu liat transportasi umumnya, masih bagusan Damri di Jakarta deh, atau Metro Mini serta Kopaja trayek Tanjung Priok. ASLI!

Tempat kami menginap adalah Space Boutique Hostel, deket Sule Pagoda. Lokasinya cukup strategis dan tempatnya sangat menyenangkan karena dekat kemana-mana. (Sambil jalan ya ceritanya deketnya kemana aja.)

-Day 1-

Hari pertama kami setengah city tour di Yangon. Tujuan-tujuan kami adalah pagoda-pagoda yang tersebar di negara ini. Tujuan pertama adalah :

1. Maksi di “Warung Padang” nya Myanmar… alias rumah makan menu India gitu. Nama restonya IngYin Nwe

Ini dia nih tantangannya, gimana caranya pesen!? Karena menunya gak semudah dpahami kalo di Indonesia. Gambarnya pun gak semua ada, dan gak ada penjelasannya, ini apa, itu apa! Sedih deh pokoknya. Alhasil tanya-tanya dan karena udah lapar, ya udah lah, pesen sesuai feeling aja.

DCIM100GOPROGOPR2813.
Makan siang, ala India
IMG_9998_Fotor_Myanmar
This is it!

2. Botatuang Pagoda

Pagoda ini letaknya cukup jauh dari tempat kami menginap, deket sungai or port gitu lah. Perjalanan yang kami lakukan dari sini adalah naik taxi dengan ongkos 2.000 Kyatt. Untuk masuk ke dalam pagoda tersebut juga ada retribusi sebesar 3.000 Kyatt per orang. Apa yang menarik dari tempat ini? Dinding pagoda ini terbuat dari emas (beneran). Berasa nemu harta karun gue. Dindingnya emas, sampe di lindungi dengan kaca plastik gitu. Dan tempat ini masih di datangi untuk sembahyang. Coba kalo orang Indo, gue rasa emasnya dah kecongkel-congkel kena gadai.

Self noted : kota ini lumayan miskin, gak sehedon Indonesia khususnya Jakarta. Semiskin-miskinnya kota ini, gak ada perampokan sembarangan, tingkat kriminalitas juga kecil dan apa-apa murah. Makanya gue bingung sebelum berangkat bonyok memastikan negaranya aman apa ga? Karena media bilang ada kerusuhan or kata lain gak aman. Tapi yang gue rasain tidak ada konflik sama sekali. Mungkin dtempat lain kali yaaa,…..

3. Sule Pagoda

Sule Pagoda ini adalah pagoda yang masih aktif dan letaknya strategis banged. Ada di tengah-tengah pusat pemerintahan. Bejejeran sama alun-alun, kantor pemerintahan dan kantor-kantor lain serta deket terminal bayangan. Persis sama kaya tata kota di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yaa, contoh di Simpang Lima. Semarang. Satu bunderan itu ada mesjid, mall, dan kantor-kantor pemerintahan. Kurang lebihnya sama deh.

DSCF4950_Fotor_Myanmar
Sule Pagoda, Yangon, Myanmar
DSCF4951_Fotor_Myanmar
Inside Sule Pagoda
DSCF4974_Fotor_Myanmar
“Central City” at Yangon, Myanmar, around Sule Pagoda

4. Let Ywe Sin (coffee shop)

Dari baunya kita langsung ngeces!

Gue : “Mas Alex… kayanya nih tempat enak deh kopinya!”

Langsung melipir, icip es kopi susu dan dessert cem egg tart gitu, tapi kalo ala gue adalah puding caramel. Yang mana saat kita pesen kita ga tau namanya, jadi main tunjuk aja. Secara orang sini kurang begitu paham sama bahasa Inggris, jadilah bahasa tarzan. Mungkin untuk istilah “kopi susu” ada namanya kaya Kopi O gitu, tapi kita ga tau. Menu nya aja tulisan keriting mbulet-bulet gitu. Mana aii paham. Tapi… icipan kita kali ini sukses jaya! Enyaakk!!!!

DSCF4981_Fotor_Myanmar
Penampakan dari atas es kopi susu dan puding karamel serta roti panggang keju (yang kami ga tau namanya dalam versi Myanmar)
DSCF4984_Fotor_Myanmar
Mas Alex dan Nadia seru sendiri

5. Numpang mandi Space Boutique Hostel

Sebenarnya tadi kita udah drop barang dsini, tapi kita ga check-in karena malem ini kita cuzz langsung ke Bagan. Jadi karena kebaikan ownernya kita boleh drop barang dan kita jeng-jeng keliling kota Yangon (sebagian aja sii, yang deket’’ dulu)

Ini lah bentuk penampakan si Space Hostel. Nice yaa… dan mursida, satu malam USD 17 sajah.

IMG_0253_Fotor_Fotor_Collage_Myanmar
Space Boutique Hostel, Yangon, Myanmar
IMG_0250_Fotor_Fotor_Collage_Myanmar
Space Boutique Hostel, Yangon, Myanmar

Tapi sayangnya, malem ini kita ga nginep di hostel ini, kita langsung cuz ke Bagan. Which is Bagan adalah “Kota Seribu Pagoda”

Perjalanan ke Bagan kami lalui dengan menggunakan bus malam, jadi ceritanya kita nginep di jalan karena perjalanan dari Yangon ke Bagan kurang lebih 9 jam. Mayan kan badan kelipet-lipet, tapi modal selimut sama musik di iPhone tidurr juga sih. Busnya cukup nyaman kok, seat 2-1 dan yang terpenting ada tempat colokannya. Thanks to kabel rol, semua gadget bisa di charge. Hahaha… (dasar orang Indonesia, fakir colokan sama fakir wifi). Selama perjalanan sih kita sempet berhenti 30 menit untuk makan atau istirahat supirlah ya, jadi perjalanannya mirip pulang kampung lewat Pantura. 

Untuk ke tempat bus malamnya, Nadia pilih operator JJ Express. Jadi kita mesti ke terminal Aung Mingalar dulu yang mana kita naik bus umum menuju terminal dengan ongkos 300 – 350 Kyatt. Dan perjalanannya kurang lebih memakan waktu 1jam-an lah, dan itu pun penuh berdesak dan gak karuan bentuknya! Sumuk, gerah, penuh. Hahaha, di Jakarta aja gue males naik bus karena gak nyaman, tapi dsini (Myanmar) malah cari perkara. Tapi … worth dengan jiwa petualangannya. Jadi kalian bersiaplah! Seruu deh. Jadi beneran, seru dalam arti kata kita perlu bersyukur bahwa Indonesia keadaannya lebih baik.

IMG_0020_Fotor_Myanmar
Suasana dalam bus kota Myanmar

-Day 2-

Tiba di Bagan.

Bgitu sampe pool bus JJ Express,nya kita (gue khususnya) kebingungan juga nih, gimana cara menuju lokasi yang dtuju. Akhirnya kami putuskan untuk sewa mobil dulu sampe di pagoda untuk liat sunrise, abis itu kita dbawa ke rental sepeda bermotor untuk putar-putar seharian. Karena MISI gue ke Myanmar sebenarnya adalah liat balon udara, di kota Bagan ini. Orang pada taunya kalo naik / lihat balon udara cuma ada di Turki, Istanbul. Ternyata di Myanmar juga ada. Ongkosnya pun dsini ga maen-maen, yaitu 300 USD. Hahaha, lebih mahal naik balon udara dari ongkos perjalanan kita selama dsini. Eniwei, cita-cita gue jelas kandas mau naik balon udara, tapi gue amaze banged sama pemandangan,nya. Bersyukur, Alhamdulillah.

Oh iya, masuk ke Bagan Archeological Centre ini kena 20 USD per-orang. Ini adalah entrence fee untuk masuk ke semua pagoda yang ada di Bagan. Sedangkan kalo di Yangon, setiap kita masuk ke pagoda kena entrance fee, tergantung tarif yang berlaku.

DCIM100GOPROGOPR2863.
Welcome to Bagan
DSCF5007_Fotor_Myanmar
Sunrise at Bulethi Pagoda, Bagan, Myanmar
DSCF5010_Fotor_Myanmar
Riding air balloon at Bagan, Myanmar
DSCF5020_Fotor_Myanmar
Sunrise at Bagan, Myanmar on Bulethi Pagoda
DCIM100GOPROGOPR2836.
Edisi dbuang sayang 🙂

Begitulah indahnya, sayang lensa kamera gue seadanya, jadi yaa seadanya, tapi ketjeh kan? Kurang lebih bginilah keadaan dsana. Salah satu pengalaman yang ga boleh dlupakan dan dlewatkan. Orang-orang pada ke Bagan untuk liat sunrise dengan view balon udara, dan liat sunset.

Lokasi sunrise ini ada di Bulethi Pagoda

Secara dsini ada ribuan pagoda, maka… tour kita hari ini adalah Pagoda Hopping. Loncat dari satu pagoda ke pagoda lain 🙂

Selanjutnya kita sewa motor bersepeda. Secara gue ga bisa naik motor, akhirnya gue boncengan sama Mas Alex kita sewa yang model motor metik Mio-an gitu. Sedangkan Nadia sewa yang lebih kecil, beneran motor bersepeda. Harga sewanya untuk 2 kendaraan tersebut adalah 18.000 Kyatt yang letaknya (patokannya) depan Eden Motel.

Dari sini mulai lah kita iterin Bagan dengan modal Peta 1000 Kyatt. (~book dsini peta aja beli)

Selanjutnya kita berkeliling ke pagoda Gyu-byauk-gyi, Gu-byauk-nge, Alo-pyi, Shwe-zi-gon, Ananda Temple, dan endingnya kita bersunset di Shwe-sen-daw.

DSCF5084_Fotor_Myanmar
Photo diantara ribuan pagoda di Bagan, Myanmar
DSCF5093_Fotor_Myanmar
Kami ngobrol dengan penduduk lokal, beliau adalah seorang penjual lukisan di Alo-pyi Pagoda. Orangnya ramah, bahasa inggrisnya juga bagus dan tidak memaksa kita untuk membeli barang dagangannya.
DSCF5081_Fotor_Myanmar
This is Bagan, the thousands pagoda in Myanmar, one of historic place on earth
DSCF5063_Fotor_Myanmar
Keren ya?
DSCF5067_Fotor_Myanmar
Candid, Mas Alex sama Nadia yang sibuk poto-poto :p
DSCF5070_Fotor_Myanmar
OOTD-an dulu lah
IMG_0067_Fotor_Myanmar
Penampakan makan siang kita di Bagan, nasi goren ayam. Banyak “sides”nya
IMG_0069_Fotor_Myanmar
Kopi ala Myanmar juga enak gaes!

Puncak terakhir kita ada di bagan adalah nonton sunset di Shwe-sen-daw Pagoda yang merupakan best view kalo mau liat sunset, karena terkenalnya seperti itu, jadi dsini banyak banged orang pada ngetekin tempat bule-bule dan jadi ga beraturan gitu. Ternyata bule juga ga disiplin” amat. Jadi tek tempat aja, cuek lah, ga usah mikirin orang lain bakal keganggu ga ya viewnya!

DSCF5108_Fotor_Myanmar
Sunset view at Shwe-sen-daw Pagoda, Bagan, Myanmar

Setelahnya kita langsung kembali ke rental sepeda motor dan balik lagi ke pool JJ Express untuk pulang ke Yangon. Ongkos taksi kita bolak balik untuk ke pool adalah berangkat 15.000 Kyatt, pulangnya 10.000 Kyatt.

And so, kayanya ceritanya udah kebanyakan ya? Hahaha, hari ke 3 nya dsambung ke tulisan berikutnya ya… masih ada banyak nih.

8 thoughts on “Budget Backpacker ke Myanmar (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s